Kamis, 23 April 2009

Perkawinan

Keragaan Hasil dan Sifat Kuantitatif Galur Harapan Kacang Hijau (Vigna radiata L. Wilczek) (Rudy Soehendi, Sri Kuntjiyati Haryono, dan Djoko Prajitno) Abstraksi:
Keragaan genotipe untuk sifat-sifat kuantitatif seperti komponen hasil dan hasil, sering berubah dari satu lingkungan ke lingkungan lain sehingga perlu dikaji kemungkinan diperoleh suatu varietas yang mempunyai daya adaptasi yang luas dan mempunyai potensi hasil yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan galur harapan kacang hijau dengan potensi hasil tinggi dan mempunyai adaptasi yang luas. Percobaan dilakukan di Jambegede dan Muneng pada MKI tahun 2000, masing-masing pada dua lingkungan (dipupuk dan tidak dipupuk). Percobaan lapangan menggunakan rancangan acak kelompok, tiga ulangan, dengan 14 genotipe kacang hijau sebagai perlakuan. Setiap genotipe ditanam pada pekak ukuran 4,5m x 2m, dengan jarak tanam 40cm x 10cm, satu tanaman per rumput. Pupuk yang diberikan adalah 50 kg Urea, 100 kg KCI, dan 50 kg SP36 per hektar, seluruhnya diberikan bersama waktu tanam dengan digarit di sebelah lubang tanam. Pengendalian hama dan gulma dilakukan secara intensif, agar diperoleh pertumbuhan tanaman yang optimal.
Hasil analisa menunjukkan bahwa, interaksi genotipe dan lingkungan sangat nyata untuk sifat yang diamati, kecuali jumlah polong per tanaman. Kisaran hasil biji dari genotipe yang diuji pada empat lingkungan adalah 0,78 t/ha - 1,21 t/ha, dengan rata-rata 0,96 t/ha. berdasarkan nilai koefisien regresi terhadap indeks lingkungan, genotipej-1-90, Psj-S-31-91, MMC74d-Kp-1, MMC100f-Kp-1 dan sriti mempunyai adaptasi baik pada semua lingkungan masing-masing dengan hasil biji 0,97 t/ha, 0.98 t/ha, 0,98 t/ha, 1,00 t/ha dan 0,98 t/ha. Genotipe EVO 947 beradaptasi pada lingkungan produktif dengan rata-rata hasil 1,15 t/ha, sedangkan genotipe Psj-20-90, dan MMC87d-Kp-5 beradaptasi pada lingkungan marginal, masing-masing dengan hasil 0,92 t/ha dan 1,21 t/ha. Genotipe MMC87d-Kp-5 mempunyai potensi hasil tinggi dan cocok untuk dikembangkan pada lahan yang kurang produktif atau dengan masukan produksi yang rendah.


Kajian Genetik Ketahanan Layu Bakteri Pada Kacang Tanah Zuriat dari Persilangan Varietas Kelinci dan Gajah (Lagiman, Sarsidi sastrosumarjo, Yudiwanti W.E.K., dan M.Machmud) Abstraksi: Pengendalian penyakit mengunakan varietas tahan merupakan cara yang efektif dan praktis dalam mengendalikan kayu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia salanacearum. Pengetahuan genetik sifat ketahanan sangat diperlukan dalam program pemuliaan, tetapi penelitian tentang tersebut masih terbatas. Disamping itu, informasiyang ada terdapat perbedaan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi genetik ketahanan layu bakteri pada kacang tanah meliputi (1) pengaruh tetua betina, (2) kinerja sifat ketahanan ( kualitatif dan kuantitatif), dan (3) sifat gen yang terlibat dalam ketahanan.
Persilangan dan pengujian lapangan dilaksanakan di Kebun Percobaan Muara Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan (Balitbio), Bogor; mulai bulan Februari 1997 sampai Juli 1999. Penyiapan inokulum dilaksanakan di Laboratorium Bakteriologi pada kelompok peneliti rekayasa protein dan imunologi, Balitbio, Bogor. Acak kelompok lengkap digunakan sebagai rancangan lingkungan dengan tiga ulangan. Jumlah tanaman untuk masing-masing populasi tanaman adalah P1 (30 tanaman), F1 (60 tanaman), SB1 (60 tanaman), SB2 (60 tanaman), dan F2 (300 tanaman). Inokulasi secara buatan dilakukan pada umur 21 hari dengan cara injeksi pada ketiak daun ke-tiga dari atas dengan 100 ml inokulum bakteri per tanaman dengan kosentrasi lebih kurang 3,5 x 108 sel hidup (colony forming units = cfu) per ml. Intensitas kelayuan diamati mulai 1 sampai 4 minggu setelah inokulasi dengan tenggang waktu 1 minggu.
Pengujian di lapangan pada populasi F2 menunjukkan bahwa pewarisan sifat ketahanan terhadap layu bakteri pada kacang tanah zuriat persilangan varietas Kelinci dan Gajah tidak ada pengaruh tetua betina. Ketahanan merupakan sifat kuantitatif dan ikut terlibat gen mayor yang bersifat kualitatif dengan aksi gen bersifat dominan parsial positif.


Efisiensi Penangkapan "Sticky Trap" Kuning pada Lalat Penggorok Daun Liriomyza sp. di Pertamanan Bawang Putih (Supriyadi, M.K. Himawati, dan Wahyu Agustina) Abstraksi: Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi efisiensi sticky trap kuning dalam menangkap lalat pengorok daun Lyriomyza sp. di pertanaman bawang putih. Dua bentuk sticky, yakni silindris dan persegi diuji pada ketinggian pemasangan 1, 30 dan 60cm dari permukaan tanah. Enam perlakuan yang meripakan kombinasi antara bentuk dan tinggi pemasangan sticky trap disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL). Sticky trap dipasang secara acak selama 24 jam. Intensitas populasi lalat Lyriomyza sp. dibandngkan sebelum dan setelah pemasangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk sticky trap tidak berpengaruh dalam menangkap lalat pengorok daum. Sticky trap yang dipasang 1cm di atas permukaan tanah atau berada di sekitar kanopi tanaman diketahui paling efisien secara nyata dalam menangkap lalat dibanding yang dipasang pada ketinggian 30 dan 60cm dari atas permukaan tanah. Pemasangan sticky trap kuning terbukti dapat menekan secara nyata populasi lalat Lyriomyza sp. di pertanaman bawang putih. Populasi lalat Lyriomyza sp. yang tertangkap pada sticky trap dengan intensitas populasinya menunjukkan korelasi positif.


Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Biji Srikaya (Annona squamosa L.) terhadap Mortalitas Hama Bubuk Beras (Sitophilus oryzae L.) (Anugraheni Dwi P dan Rr. Rukmowati Brotodjojo) Abstraksi: Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak biji srikaya (A. squamosa) terhadap mortalitas bubuk beras (S. oryzae) telah dilaksanakan pada bulan Desember 1999 sampai dengan Februari 2000 di Laboratorium Perlindungan Tanaman UPN "Veteran" Yogyakarta. Penelitian yang terdiri dari dua uji, yaitu uji kontak dan uji pakan disusun menurut Rancangan Acak Lengkap dengan enam perlakuan konsentrasi ekstrak (0%, 10%, 20%, 30%, 40%, 50%), masing-masing lima ulangan. Tiap ulangan terdiri atas 10 ekor serangga. Hasil penelitian emnunjukkan bahwa baik pada uji kontak maupun uji pakan mortalitas tertinggi terjadi pada konsentrasi 50% pada hari ke-7 dengan LC50 pada uji kontak dan uji pakan berturut-turut sebesar 1,12% dan 1,31%. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak biji srikaya mampu membunuh S. oryzae melalui kontak dan sistem pencernaan.


Lama Penyimpanan pada Suhu Rendah dan Pemberian Trakontanol Pengaruhnya terhadap Viabilitas dan Vigor Benih Kakao (Ami Suryawati, Basuki, dan Ipung Dian Irawati) Abstraksi: Penelitian tentang lama penyimpanan pada suhu rendah dan pemberian triakontanol pengaruhnya terhadap viabilitas dan vigor benih kakao dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi dan Teknologi Benih, Jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian, UPN "Veteran" Yogyakarta serta di rumah plastik di daerah COndong Catur, Depok, Sleman. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan November 1999 sampai dengan Februari 2000.
Penelitian meliputi 2 percobaan. Percobaan I merupakan percobaan laboratorium dengan faktor tunggal, yaitu lama penyimpanan pada suhu rendah, meliputi 4 aras: lama penyimpanan 10, 20, 30 dan 40 hari. Percobaan II merupakan percobaan faktorial 4x4. Faktor I adalah lama penyimpanan pada suhu rendah (percobaan I), sedangkan faktor II adalah konsentrasi triakontanol: 0, 1, 2 dan 3 ppm. Kedua percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 ulangan. Data hasil pengamatan dianalisis dengan sidik ragam pada jenjang nyata 5% dan Uji Jarak Berganda Duncan 5%.
Dari percobaan I diperoleh hasil bahwa benih yang disimpan selama 40 hari pada suhu (20-22°C) mengalami kemunduran lanjut, dicerminkan oleh persentase benih berkecambah dan benih berjamur sebesar berturut-turut 63,55% dan 29,94%. Pada lama penyimpanan 10 hari dan 30 hari, pemberian triakontanol konsentrasi 2 ppm mampu meningkatkan kecepatan berkecambah dan T50 dibandingkan konsentrasi 0,1 dan 3 ppm. Pada lama penyimpanan 40 hari, pemberian triakontanol sampai konsentrasi 3 ppm, belum dapat memperbaiki daya berkecambah, kecepatan berkecambah, T50 dan persentase kecambah abnormal.


Pengaruh Tipe Penyerbukan terhadap Produksi Benih Jati (Abdul Wahid Rizain dan Endang R. Palupi) Abstraksi: Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh tipe penyerbukan dan tetua ada penyerbukan silang terhadap produksi benih jati. Pada percobaan ini empat klon (klon 11, 29, 30 dan 51) yang diseleksi dari kebun benih klonal umur 14 tahun di Cepu sebagai tetua untuk persilangan. Pada 0,5 minggu setelah penyerbukan, persentase buah tidak gugur tertinggi dihasilkan dari penyerbukan terkendali klon 30x51 (42,39%). Pada 14 minggu setelah penyerbukan, persentase buah tidak gugur tertinggi dihasilkan dari penyerbukan terkendali 51x30 (10,29%). Pada 24 minggu setelah penyerbukan (saat buah dipanen) persentase buah tidak gugur tertinggi dihasilkan dai penyerbukan terkendali klon 51x30 (4,30%). Penyerbukan silang tetua betina klon 30 tidak menghasilkan benih. Penyerbukan terbuka klon 30 umumnya buah gugur sebelum 0,5 minggu setelah penyerbukan. Pada penyerbukan sendiri klon 30 dan klon 30x30, buah gugur terjadi sebelum 0,5 minggu setelah penyerbukan dan berlangsung hingga 1 minggu setelah penyerbukan. pada penyerbukan silang dengan tetua betina klon 30 buah gugur berlangsung hingga 1,5-2 minggu setelah penyerbukan, tetapi jika tetua jantan klon 30, gugur buah berlangsung hingga 16 minggu setelah penyerbukan.


Respons Pertumbuhan Salvinia molesta D.S. Mitchell terhadap Pemupukan Nitrogen Bervariasi Dosis dan Tinggi Genangan Bervariasi (Siwi Hardiastuti) Abstraksi: Penelitian bertujuan untuk mengetahui respons pertumbuhan Salvinia molesta pada variasi dosis nitrogen dan tinggi genangan. Penelitian ini dilaksanakan dengan percobaan pot yang disusun berdasarkan rancangan acak lengkap (RAL) yang merupakan percobaan faktoral terdiri atas dua faktor perlakuan yaitu dosis nitrogen tiga aras: 0, 5, 10cm. Tiap unit perlakuan terdiri dari 5 pot dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan anatomi S. molesta mengalami perubahan sebagai akibat pengaruh pemupukan N dan tinggi genangan. Pengaruh interaksi terjadi pada parameter persentase penutupan permukaan tanah, bobot kering dan jumlah stomata. Kombinasi perlakuan nitrogen 180 kg ha-1 dan tanpa genangan menunjukkan hasil tertinggi pada parameter jumlah daun (488.17), persentase penutupan permukaan tanah (95%) dan bobot kering tanaman. Perlakuan dosis nitrogen 180 kg ha-1 menghasilkan kandungan klorofil tertinggi 2,70 mg g-1 daun.


Model Matematik untuk Memprediksi Kadar Air Benih Padi pada Kemasan Bentuk Silinder (Alif Waluyo) Abstraksi: Penyerapan uap air menjadi masalah utama bagi produsen benih padi karena kadar air benih tersimpan dapat mengalamu kenaikan, sehingga benih tersebut tidak dapat memenuhi standar mutu benih bersertifikat/berlabel.
Penelitian ini bertujuan mengembangkan model matematik untuk memprediksi distribusi kadar air penyimpanan benih padi dalam kemasan. Model dibuat berdasarkan migrasi massa air (karena difusi) ke arah radial dalam kemasan bentuk silinder berdiameter 48 cm, dengan variasi tiga perlakuan RH ruang penyimpanan. Keandalan model dianalisis menggunakan uji validitas dan uji kepekaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air prediksi tidak signifikan dengan kadar air observasi. Model matematis sangat peka terhadap perubahan kadar air awal bahan (Mo), RH ruang penyimpanan dan jari-jari bahan (R). Secara keseluruhan, model matematik ini cukup baik untuk memprediksi kadar air benih padi selama penyimpanan dalam kemasan bentuk silinder.


Pengaruh Agregasi Tanah Inseptisol Kasar dan Vertisol akibat Pemberian Kompos Gulma Air terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung (Dian Arbiwati) Abstrak: Salah satu sifat tanah yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah sifat fisika tanah. Tanah Inseptisol kasar dan Vertisol, keduanya mempunyai tekstur yang berbeda dan sifat fisika yang kurang baik, sehingga diharapkan pemberian kompos gulma air sebagai bahan organik dapat memperbaiki sifat fisika tanah dan sebagai media perakaran yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji pengaruh agregasi tanah inseptisol kasar dan vertisol akibat pemberian beberapa macam kompos gulma air terhadap perumbuhan tanaman jagung.
Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap yang disusun secara faktorial. Faktor pertama adalah 5 perlakuan macam kompos gulma air, faktor kedua adalah 2 perlakuan jenis tanah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompos gulma air dapat berperan dalam agregasi tanah inseptisol kasar dan vertisol. Kompos enceng gondok dan kayu apu merupakan bahan pembenah tanah yang lebih baik daripada kompos kayambang dan Azolla, tetapi kompos Azolla dapat meningkatkan penyediaan unsur hara nitrogen. Perbaikan agregasi dari kedua tanah tersebut dapat meningkatkan berat kering akar dan berat kering trubus, tetapi tidak meningkatkan tinggi tanaman jagung.

Back

Tidak ada komentar:

Posting Komentar